Ekspedisi Hari Ke-lima

Cuma tinggal  1 hari lagi. Aku pasti bisa! 

Aku dan Rakka bangun di rumah Fatih dan Brian. Sebelum kami ke sanggar, kami main sama kucing. Tetapi saat Bagas main bareng kucingnya, dia malah siksa kucing itu. Aku sudah suruh dia untuk berhenti tetapi dia tidak mau dengerin aku. Jadi aku mau ambil kucingnya tetapi malah Bagas menghalangiku. Untungnya Rayda datang dan mengambil kucingnya. Pheww, syukurlah selamat tuh kucing. 

Saat kami ke sanggar untuk aktivitas selanjutnya yaitu Lacak Kisah Masa Kecil, aku dan Rakka dimarahi kakak Jaladwara, “Jangan sleepover walaupun kami tidak tahu! Tidur di tempat orang lain akan membuat orang tua asuh kalian akan merasa sedih atau penasaran atau dua-duanya”. Aku merasa bersalah dan sedikit malu. Tapi aku sekarang tahu apa yang aku harus lakukan dan apa yang aku tidak/jangan lakukan.

Setelah  itu, kami main game yang bernama Melempar Bola. Kami harus mencoba melempar bola dengan waktu tercepat. Kami mulai dari 38 detik sampai 1 detik saja bisa loh! Main, sudah. Infografis? Oh iya, belum. Kami lanjut mencari narasumber untuk infografis kami. Saat aku mencari narasumber, aku beli burjo karena aku kangen rasanya. Dan sudah jelas Pak Supri yang jual burjo terenak di desa Sumber!

Gambar 1 dan 2. Main melempar bola sampai pass bola

Sekarang… Waktunya untuk membuat infografis! Kami tidak punya banyak waktu jadi kami harus cepat-cepat karena kami akan menari! Kami hanya perlu buat dan gambar infografisnya. Dan ternyata lebih lama dari yang ku perkirakan loh. 

Gambar 3 dan 4. Membuat infografis

Akhirnya waktu untuk kami belajar menari! Tetapi, sebelum kami menari kami diberi pilihan antara menari atau bermain musik gamelan. Aku memilih alat musik yaitu kenong. 

Kenong adalah alat yang bentuknya logam kuningan disusun atas kayu. Cara memainkannya adalah memukul dengan alat seperti palu dari kayu. Aku ingat kakakku juga main gamelan dan dia bermain kendang. Karena kelihatan asik, jadi aku mau mencoba gamelan kayak kakakku. Dan lucunya, semua cowok hanya mau main gamelan. Eh, selain para cowok, Sherel main gamelan juga. Dan tidak ada satu cowok pun yang mau menari termasuk aku. Pengajarnya adalah pak Untung dan mas Yoko. Aku senang bisa belajar gamelan dan ternyata, ini adalah kesenian tradisional yang seru loh dan menurutku kalian harus mencoba. Kami tidak tahu, ternyata nanti malam kami akan pentas dan semua anak yang ikut ekspedisi bilang “NOOO”. Tetapi aku diam-diam senang malahan.

Gambar 5. Belajar gamelan. Look at that handsome boy!

Setelah kami belajar gamelan, aku dan Rakka balik pulang dan siap-siap untuk presentasi dan pementasan malam itu. Kami juga tanya ibu dan bapak kalau mau nonton pementasan dan presentasinya dan semuanya mau nonton. Jadi aku mandi dan siap-siap karena ini hari terakhirku di Desa Sumber dan aku mau kasih penampilan yang terbaik untuk Desa Sumber. 

Deg-degan nih. Tetapi aku siap!  Sebelum kami mau pentas, kami melakukan finishing touches ke infografis kami. Kami mencoba selesaikan secepat mungkin sebelum mau pentas. Dan lumayan selesai menurutku, walaupun masih ada bagian yang kami belum warnai.

Saat kami pentas, aku merasa biasa saja karena aku dibelakang panggung, tidak ada yang bisa lihat aku. Di sanggar ada banyak orang. Ada pak RT dan RW dan semua bapak, ibu dan anak-anak Desa Sumber. Kami memainkan tarian yang bernama Kerincing Manis dan bermain gamelan untuk mengiringi tarian itu. Menurutku, pementasannya berjalan dengan sukses karena walaupun kami hanya belajar dalam waktu sekitar 1 jam dan 30 menit, tapi efektif banget latihannya dan pementasan itu semuanya lancar.

Gambar 6. The man behind the stage!

Saat kami presentasi infografis kami, aku awalnya deg deg-an, tetapi saat aku sampaikan pembukaannya, aku merasa kayak MC! Dan asik banget berbicara di depan semua orang. Dan aku merasa bangga karena kami bisa cerita apa yang kami lakukan selama di sini dan kerja keras kami, akhirnya selesai. Dan kerennya, pak Untung kasih komen, “Kami baru sadar bahwa anak-anak kita kurang disiplin dan sudah dikonsumsi dengan android.” Kami senang saat mereka bilang itu. Dan aku merasa bangga karena aku telah membantu sedikit teman-teman Desa Sumber dan orang tuanya. Tim BukIjo berterima kasih untuk Tim Jaladwara terutama Kak Meli yang sudah mentoring dan sabar mengajari kami. What would we do without you? You are a super awesome mentor!

Gambar 7, 8. Presentasi tim BukIjo. Gambar 9. Foto keluarga Cemara!

Malamnya, kami tetap melakukan log book seperti biasa. Setelah itu, aku dan Rakka balik gak sabar karena kami akan pulang. Dan besok adalah hari ulang tahunkuuu! YESS! Tetapi saat ulang tahunku ada masalah dan masalah itu adalah……. Silahkan cari tahu di hari keenam!

Foto oleh: Tim Jaladwara

Ekspedisi Lereng Merapi Hari Ke-empat

Yes! hari  ke-empat. Hari yang aku tunggu karena kami akan ke pasar! Jadi aku sama Rakka bangun pagi-pagi sekitar jam 05:10 an dan siap-siap untuk belanja. Nah kalian penasaran kan kenapa kami mau ke pasar. Kalau kalian melihat blog aku ‘Saatnya Memasak’ dan ‘Pengalaman Belanja Minim Sampah’, itu adalah tugas yang diberi kakak Jaladwara karena kami akan memasak untuk orang tua asuh. Selama kami di rumah orang tua asuh, mereka memberi kami rumah untuk tidur dan juga memberi makan. Jadi kami berterima kasih kepada mereka dengan memasak untuk mereka. Aku akan masak perkedel dan Rakka akan memasak mendoan.

Setelah kami pamit kepada orang tua asuh, kami ke sanggar untuk berkumpul sebelum ke pasar. Aku dan Rakka tidak lagi menunggu Brian dan Fatih karena kami tidak mau terlambat lagi. Saat kami ke sanggar, aku kira kami akan lewat jalan raya, ternyata kami lewat sawah. Aku senang banget dan lebih enak lewat sawah karena tidak ada bau asap mobil dan lebih tenang jalannya. 

Gambar 1 dan 2. Jelajah ke Pasar Talun.

Oh iya, aku lupa bilang bahwa kami akan ke Pasar Talun hehehe. Saat kami belanja, kami harus membawa tas belanja sendiri karena kami mencoba menghasilkan minim sampah sambil belanja. Jadi sampah yang kami hasilkan, harus masuk kedalam logbook sampah dan sayur apapun yang kami beli, kami harus masukkan kedalam logbook keuangan. Saat kami belanja, kami juga dapat tugas dari kakak Jaladwara yaitu

  1. Mencari toko buah dan tanya buahnya dari mana, dan harganya. 
  2. Cari tape yang dibungkus daun.
  3. Cari bubur untuk sarapan. 

Untuk tantangan nomor 1, kami berhasil menemukan toko buah berkat Beni yang menemukannya  tokohnya. Kami harus bertanya ada buah apa saja, harganya berapa dan aslinya darimana.

  1. Jeruk dari Brebes, sekilo = Rp. 8.000 
  2. Salak dari Jogja sekilo = Rp. 4.000
  3. Jambu merah dari Jogja, sekilo = Rp. 10.000
  4. Manggis dari Jogja, sekilo = Rp. 20.000
  5. Nanas Dari Mutilan, sebutir = Rp. 5.000
  6. Semangka dari Muntilan, sekilo = Rp. 15.000
  7. Mangga dari Borobudur, butir = Rp. 5.000
  8. Bengkoang dari Berembun, sekilo = 8.000

Kalau tantangan 2 kami tidak berhasil mencari tape yang pakai daun, kami hanya menemukan tape yang pakai plastik. Dan untuk tantangan 3 kami sudah tanya dan mencari buburnya tetapi buburnya tutup. Jadi aku dan Rakka makan mie bakso yang enak dengan ijin kakak Jaladwara. Dan saat kami makan, kakak Jaladwara malah ikutan makan dengan kami.

Gambar 3 dan 4. Belanja dan makan mie  bakso

Setelah kami makan mie bakso, kami pulang. Tetapi dengan belanjaan berat ini, kami naik angkot pulang! Lumayan deh kakak tidak siksa kami dengan jalan jauh. Saat kami di dalam angkot, sempitnya minta ampun deh. Sampai satu anak dari Desa Sumber malah duduk di depan pintu yang kebuka. Golek mati tuh anak kalau misalnya jalannya rusak, anak itu hampir jatuh dari angkotnya. Sampai sanggar kami pulang ke rumah masing-masing untuk drop sayurnya terus aku dan Rakka ke sanggar. 

Gambar 5 dan 6. Naik angkot *Suffocating*

Saat kami ke sanggar, tidak ada siapapun disana jadi aku dan Rakka panggil yang lain. Saat kami panggil satu-satu dan malah main, dan kami terlambat untuk aktivitas kami yaitu aktivitas Lacak Kisah Masa Kecil. Sekarang timku sudah punya info yang kami perlukan dan tinggal pilih layout. Kami bisa pilih infografis atau mind map. Kami pilih infografis karena lebih jelas layoutnya dan lebih ketata gitu.

Gambar 7. Kerja kerja kerja!!!

Setelah kami pilih infografis dan riset sedikit lagi, kami pulang dan mulai memasak! Saat aku dan Rakka potong bawang, kami pakai kacamata kayak MIB agar mata tidak pedih dan tidak membuat kami menangis. Sambil masak, kami cari kesamaan bareng ortu asuh kayak musik atau hobi. Aku mandi sebentar saat sedang masak dan juga Rakka. Lucunya, saat Rakka mandi, pintunya malah jatuh. Aku ketawa tapi membantunya. Selain itu, Rakka juga lupa untuk membawa baju untuk dipakai setelah mandi hahaha. Saat kami lanjut masak, kami buat nasi goreng untuk tambahan makanan. Makanan siap, langsung sikat! Makanannya sukses untuk rasa tetapi tidak untuk strukturnya. Perkedelnya gampang pecah/hancur. Mendoan buatan Rakka enak banget sumpah deh. Kayaknya lebih enak dari pada punya aku deh.

Gambar 8. Hasil masterpiece ku yang jelek.

Setelah kami makan, kami ke sanggar untuk revisi. Tetapi saat kami sampai sana, tidak ada siapa pun. Kata kakak kami pindah ke tempat lain untuk revisi. Saat kami sampai, kami main-main dan ada tali yang diikatkan ke atap. Kami nge swing kayak spiderman.

Setelah kami main kayak spiderman, kami lanjut membuat logbook. Tetapi sebelum itu, kita main dulu dong. Kita main stop jalan, mudhun munggah. Main stop jalan. Begini cara mainnya. Kalau bilang stop, stop. Kalau bilang jalan, jalan. Dari situ bisa di tukar. Stop itu jalan dan jalan itu stop. Atau tambah. Misalnya. Tepuk dan nama. Kalau main munggah mudhun, kalau munggah muka harus belok ke kanan. Kalau mudhun muka harus ke kiri. Gampang kan? Tetapi harus konsentrasi karena kita bisa salah loh.

Refleksiku hari ini adalah hari yang meyenangkan karena aku dapat sayuran yang murah dan lebih segar. Dibanding dengan Superindo, pasar tradisional lebih murah dan  diambil dari petani yang dekat. Kita juga bisa ngobrol dengan penjual dan sekaligus minta diskon. Apa lagi kalau langganan hehehehe. Aku juga suka karena ada yang jual makanan tradisional. Dan itu adalah hal yang kita tidak bisa dapatkan di supermarket. Dan di supermarket, semua biasanya sudah dikemas barangnya dan memang lebih praktis untuk kita. Tetapi kemasan itu kami langsung buang dan itu semakin nyampaaaah!

Setelah itu kami pulang dan tidur. Tetapi aku dan Rakka tidur di tempat Fatih dan Brian. Dan besoknya kami dimarahi karena …… Silahkan cari tahu di hari ke-lima. 

Cukup kayaknya untuk blog kali ini dan sampai ketemu di hari ke-lima!

Foto oleh: Tim Jaladwara



Ekspedisi Lereng Merapi Hari ketiga

Yeahh sudah masuk hari ketiga. Pagi itu, aku bangun jam 05:15 WIB lalu aku cuci muka, minum teh sambil makan crackers. Hari ini, kami akan berkumpul di sanggar karena kami akan ke Candi Asu dan Candi Pendem. Setelah kami pamit pada orang tua asuh, kami pergi ke sanggar. Kami sedikit terlambat karena kami menunggu Brian dan Fatih. Saat kami di sanggar, kami mendapat penjelasan tentang aturan selama di jalan dan persiapan barang karena nanti panas dan melelahkan. Kami membawa bekal dengan mengisi kotak makan kami dengan singkong manis, singkong asin dan pisang. Setelah itu kami berangkat ke Candi Asu.

Gambar 1 dan 2. Sesi sebelum berangkat

Di jalan, kami ngomongin Candi Asu karena namanya lucu sekali. Selain itu kami juga lewat kali Senowo yang kelihatan cantik sekali kalau misalnya sunrise. Kami juga melewati air terjun sampah, aku menyebutnya begitu karena di situ ada sampah makanan, plastik, dan daun-daun. Kalau kalian lihat air terjun itu, kalian pasti akan merasa tidak mau membuang plastik lagi. 

Saat kami sampai di Candi Asu, candinya tidak menerima pengunjung. Jadi kami lanjut perjalanan ke Candi Pendem. Kata salah satu temanku, “Namanya candi asu, mana asunya?” dan saat kami melewati kampung, temanku bilang “Tuh asu yang kamu cari hehehe.” Oh iya, tahu tidak kenapa namanya Candi Asu? Karena, jaman dulu saat arkeolog datang, ada banyak asu (anjing). Jadi dinamakan Candi Asu.

Sesampainya kami di Candi Pendem, kami bermain game yang mirip dengan game Kenali Sumber yang kami mainkan di hari ke 1. Jadi kami dalam grup harus mencari gambar di Candi Pendem yang ada di buku gambar Jaladwara. Kelompokku hanya menemukan 3 gambar karena gambar yang lain ada di Candi Asu. Lalu kami juga belajar tentang bagian candi, seperti Kala adalah penguasa waktu, ada kemungkinan di setiap candi ada patung yang berposisi Gana dan kalau mau lihat kapan candinya dibuat, ada cerita di candinya dan ada banyak lagi yang bisa dipelajari. 

ambar 3 dan 4. Mencari gambar di buku dan belajar tentang candi

Kami kembali ke Candi Asu karena masih ada gambar yang belum kami cari di Candi Asu. Tetapi sesampainya kami di sana, candinya masih tutup. Aduh kapan lah dibuka? Tahu-tahu, ada anak dari Desa Sumber lihat lubang kecil dan masuk ke dalam candinya wkwkwk. Tapi santai. Oleh kakak-kakak, anak-anak itu disuruh keluar kok. Daripada kami tidak ngapa-ngapain, kami belajar tentang sampah dan bagaimana efeknya di masa depan. 

Gambar 5. Diskusi tentang sampah

Kami diskusi tentang air. Apakah kalian tahu kenapa laut kita kotor? Penjelasannya panjang. Kita mulai dari yang kita minum. Pabrik air sudah jelas ya cari untung dari air. Tetapi dimana mereka mencarinya? Biasanya cari sumber air di gunung. Mereka cari air yang bersih. Tetapi ada banyak pabrik air jadi ada konflik untuk dapat air bersih. Nah air yang kita konsumsi adalah dari pabrik-pabrik itu. Kita minumnya dari kemasan. Kita hanya pakai kemasan itu sekali doang dan dibuang. Perjalanan sampahnya panjang. Akhirnya malah mengotori laut kita karena kemasan yang tidak terurai, ujung-ujungnya akan di laut.

Kami melanjutkan diskusi kami tentang udara. Kalian tahu tidak kenapa Swedia adalah tempat yang bersih? Karena, sampah yang mereka pakai itu, dijadikan listrik. Menurut aku itu tidak baik karena sisa sampahnya itu dibakar dan dibakar menjadi masalah baru, polusi udara.

Nah diskusi makin seru nih. Karena sekarang kami membahas tentang makanan. Sekarang ada pop mie dan mie sedap kan? Siapa yang suka makan? Kenapa kita beli makanan seperti itu? Karena enak. Dan kita juga cari yang praktis. Makanan yang praktis itu ada didalam kemasan. Ya itu juga menghasilkan sampah. 

Kalian sudah belajar banyak kan tentang sampah? Nah setelah ini kami akan ke kali Senowo. Saat kami ke kali Senowo, aku Rakka ,Bagas, Fatih, Nayra dan  Rania jalan duluan. Tetapi saat kami hampir sampai, kami tersesat. Padahal deket banget. Tapi kami beruntung karena si joker (Bagas) ketemu jembatan kali Senowo. 

Gambar 6. Ketemu jembatan setelah kami tersesat.

Saat kami di kali Senowo, kami main air, lempar batu, tata batu dan banyak lagi. Aku cuman duduk dan nikmati pandangannya dan aku tidak mau dekat-dekat dengan air terjunnya karena nanti aku akan basah dan aku tidak bawa baju ganti dan suaranya juga terlalu keras. 

Gambar 7 dan 8. Main-main di kali Senowo.

Setelah kami main di kali Senowo, kami pergi ke festival 5 gunung! Isinya adalah orang tampil dari 5 gunung yaitu, Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh. Disana kami menonton pementasan kesenian dan keren banget tariannya, aku juga suka musiknya. Tetapi cuacanya panas buanget! Aku beli makanan karena aku kelaparan. Aku beli mie bakso karena aku kangen rasa bakso dan juga makan es krim supaya aku tidak rasa panas. Disana musiknya keras banget. Karena aku samping speaker wkwkwk tetapi walaupun aku pergi jauh, musiknya tetap keras tetapi mendingan sih suaranya. Gara-gara makan banyak dan cuacanya panas aku ketiduran di kursi saat menonton pementasan tari. Aku juga pusing banget sebelum dan setelah pementasannya.

Gambar 10 dan 11. Melihat pentasan Festival 5 Gunung sambil makan.

Setelah itu kami semua balik pulang. Di jalan, awalnya aku tidak mau ikut joker jalan duluan lagi. Tapi aku akhirnya malah ikutan karena semua cowok ikutan dia. Saat kami sampai rumah, aku pergi cuci baju karena aku tidak mau bawa baju kotor pulang. Setelah kami istirahat, kami lanjut lacak kisah masa kecil!

Untuk lacak kisah masa kecil kali ini, Kak Meli menyuruh jangan sekedar tanya doang. Kami harus klarifikasi untuk info yang kami dapatkan. Jadi kami bertanya ulang orang yang kami tanyai kemarin dan klarifikasi pertanyaan kami supaya info yang kami dapat tidak salah. Aku berhasil mewawancarai 5 narasumber. Aku sedikit kesusahan karena aku tidak terlalu lancar bahasa jawa, jadi kami minta tolong kak Meli untuk terjemahkan. 

Gambar 12. Wawancara

Setelah kami selesai wawancara, kami pulang karena sudah pukul 17:00 WIB. Sampai rumah aku mandi dan santai saja. Aku juga makan nasi goreng yang tidak pakai kecap. Enak juga loh rasanya, kayak nasi goreng china  tapi lebih tawar karena kami tidak boleh pakai micin.

Setelah kami makan, aku dan Rakka pergi ke sanggar. Disana kami revisi dan lakukan log book. Kalau kali ini aku buat log book yang seperti mas Kaysan kasih contoh. Saat kami revisi tentang Festival 5 Gunung. Menurut aku ya, saat aku nonton Festival 5 Gunung, ini menarik karena, sudah dari lima gunung dan festival ini tidak ada sponsor. Jadi semua ini, warga yang buat secara mandiri. Jadi kami juga bisa buat acara kayak gini dari hal kecil. Dan ini juga impresif karena ada 77 kelompok kesenian. Mantap banget itu kerja samanya boy! 

Gambar 13. Refleksi bareng teman-teman.

Setelah itu kami semua pulang dan tidur nyenyak karena besok kami akan…….. Cari tahu di hari ke empat.

Terima kasih sudah membaca blog ini dan sampai ketemu di hari keempat.

Foto oleh: Tim Jaladwara

Ekspedisi Lereng Merapi Hari Ke Dua

Brrrr dinginnya pagi di desa Sumber. Aku bangun jam 05:45 dan cuci muka dan sikat gigi. Enak karena biasanya aku di omelin sama ibu untuk sikat gigi wkwkwk. Oh iya aku lupa tulis. Pagi-pagi, aku dengar ada traktor di luar. Suaranya nyaring minta ampun tuh mesin. Aku terbangun gara-gara traktor itu. Ok, lanjut cerita. Oh iya, paginya aku tidak mandi btw karena… Kalau paginya sudah dingin, airnya apalagi. Kami juga makan nasi dan ayam di pagi hari. Aku dan Rakka seharusnya ikut orangtua asuh, tetapi kami tidak berangkat. Jadi aku sama Rakka ke sanggar. Tetapi tidak ada yang di situ. Cuma kakak Jaladwara masih tidur hehehe.  Jadi kita balik pulang ke rumah saja.

Sampai rumah kami tanya orang tua asuh dan tahu-tahu kami langsung diajak berangkat. Saat aku dan  Rakka ikut orangtua asuh, kami bertanya. “Kita mau ke mana ya bu?” Kata ibu Sumpani, “Kita mau kesawah. Pernah kan ke sawah?” Kami jawab “Sudah pernah.” Terus kami semua ikut Beni ke sawah. “Waduhhh. Indahnya tempat ini.” Aku merasa ingin menikmati pemandangan sekitar. Tetapi aku harus bekerja dulu. Aku dan Rakka bertanya, “Apa yang kita harus petik bu?” Katanya “Cabe merah. Kalau masih hijau jangan tetapi kalau sudah mulai oranye boleh. Dan kalau ketemu kacang panjang petik juga ya.” Dan kami mulai treasure hunt kami. 

Gambar 1. Petik cabe merah bareng Rakka dan Beni.

Saat aku dan Rakka petik cabe dan kacang panjang. Kami terlalu semangat sampai kami tidak tahu bahwa kita petik cabe di sawah orang lain. Dan kata ibu Sumpani, “Gak papa yang penting orangnya belum tahu.”  

Gambar 2 dan 3. Hasil petik cabe dan kacang panjang kami.

Saat kami mau balik, kami bertemu Bagas dan Leon. Kami tanya kepada orang tua asuh kalau kami boleh ikut sama mereka. Katanya boleh. Jadi kami ikut kemana mereka pergi. Kami juga melihat bahwa ibunya membuat obat untuk tanamannya. Isinya obat jamur, pestisida, obat binatang dan banyak lagi. Ibunya masukan semua obat itu ke dalam penyemprot hama dan di semprot. Aku dan Rakka dapat mencoba dan asik banget. Tapi penyemprot hama berat banget. Lebih berat dari pada temen aku wkwkwk.  Kita tidak tahu semua isinya jadi kita sebut baygon saja. Sebenarnya aku tahu bahwa semprotan pestisida itu tidak baik untuk makanan dan juga untuk orang. Saat aku menyemprot, aku tidak sadar aku lakukan hal yang tidak baik tapi asik juga sih menyemprot tanaman. Harusnya diganti dengan pupuk cair atau pestisida alami dari tumbuhan seperti lerak.

Gambar 3 dan 4 dan 5. Semprot baygon ke cabe

Di gambar yang kelima ada kesalahan. Saat Rakka mau isi semprotan hamanya, ujung semprotan nya lepas. Kami semua kesusahan mencarinya tetapi gak ketemu. Kami minta maaf kepada ibunya dan mulai jalan balik. Kami selesai jam 07:45. Di jalan kami harus hati-hati karena kalau tidak, kami bisa jatuh karena jalan nya sempit banget. Tidak hati-hati = jatuh. Dan ada motor juga yang lewat jadi ekstra hati-hati dong. 


Saat kami balik, kami berhenti di rumah Bagas untuk duduk-duduk karena kami capek. Setelah itu aku dan Rakka balik pulang ke rumah. Kami pulang minum teh, ganti baju dan ke sanggar. Tetapi sebelum kami ke sanggar, kami ke rumah Bagas untuk jemput mereka. Rakka membawa UNO jadi kami semua bisa main. 

Saat kami di sanggar dan main UNO, semua pada ikutan main. Beruntung Rakka bawa 2 set UNO. Bagas curang mainnya tapi juga lucu curangnya jadi kami semua ketawa. 

Gambar 6 dan 7. Main UNO bareng teman-teman

Saking banyaknya orang ikutan main, kakak Jaladwara bantu kami. Sekarang ada game kartu biasa kayak tepuk nyamuk atau 41. Dan ada game yang kami belum pernah dengar yaitu……… Kakak Teladan. Asik banget mainnya. Silahkan beli kalau mau tahu asiknya seberapa gamenya. Kami main gamenya selama 2 jam sampai jam 9 pagi. Lama banget kan hehehe. 

Setelah kami main UNO, kami bikin mind map! Jadi, kelompok masing-masing harus buat mind map tentang desa Sumber. Ada makanan, air, sosialisasi dan masa kecil. Kelompokku dapat topik masa kecil dan kami membagi tugas. Satu melakukan wawancara topik sekolah, lainnya melakukan riset pekerjaan luar sekolah, permainan dan pekerjaan rumah. Aku memilih topik pekerjaan rumah. Kami masing-masing harus membuat pertanyaan sendiri. Walaupun kami fokus ke topik yang berbeda, semua info kami bagi semua. Jadi tidak ada info sendiri-sendiri. Aku membuat total 11 pertanyaan. Dan supaya kami bisa mengatur tempat dan apa yang kami akan lakukan, kami membuat mindmap.

Gambar 8. Membuat mindmap

Setelah kami membuat pertanyaan, kami lanjut bermain. Banyak kan waktu main nya hehehe. Tapi kali ini kami tidak main sendirian saja. Kami main bareng anak desa Sumber. Kami pergi ke lapangan karena kami akan perlu tempat yang sangat luas. Pertama kami main Salah Benar. Caranya begini. Kalau bilangnya benar, benar, benar dan maju, mundur, maju, artinya kamu harus maju mundur dan maju. Tapi kalau salah, salah, salah dan mundur mundur mundur. Artinya kamu harus lakukan sebaliknya jadi kamu maju, maju, maju. Kami juga bingung pertama, tetapi kalau sudah biasa, nanti bisa. 

Gambar 9 dan 10. Main benar salah, maju mundur

Setelah itu kami bermain benteng. Lucu banget karena kami menggunakan  aturan yang salah. Kami semua pada bilang kamu salah! atau begini kan? Nah, saatnya problem solving! Akhirnya kami juga pilih satu aturan dan ikut aturan itu. 

Gambar 11 dan 12. Main benteng

Setelah main game, kami balik ke sanggar. Kami dibagi dalam kelompok baru karena kami akan mencoba makanan khas! Setiap grup akan ke rumah orang yang membuat makanan khas itu. Total ada 4 makanan khas yang akan kami pelajari dan masing-masing grup akan mencoba makananya dan memasaknya. Ada kimpul, bakwan, kue cucur dan kerupuk. Grupku dapat belajar kue cucur. 

Kami semua ke rumah bu Mitri. Saat kami sampai di luar rumah bu Mitri, kami mencium bau  donat. Kalau baunya enak pasti makanannya lebih enak. Saat kami masuk, kami melihat ada banyak kompor. Ada lebih dari 6 kompor. Karena dapurnya kecil, jadi kami harus bergantian 2 orang masuk. Saat yang lain masuk, aku tidur karena aku terlalu capek. Saat aku mengoreng kue cucurnya, asik banget deh karena kali ini, minyaknya tidak muncrat ke muka aku kayak di rumah saat menggoreng ayam atau ikan. Selain menggoreng aku juga mencoba kue cucurnya. Aku dan Leon malah suka yang gosong karena crispy

Gambar 13 dan 14. Masak kue cucur dan foto bareng di depan rumah bu Mitri

Cara memasak kue cucur.

Bahan-bahan:

  1. Gula jawa
  2. Tepung terigu
  3. Gula kelapa
  4. Minyak kelapa

Cara memasak:

  1. Rebus gula kelapa
  2. Campur gula dengan air
  3. Masukkan gula jawa dengan tepung di mixer
  4. Tunggu 5-7 jam 
  5. Goreng kuenya
  6. Makan bareng teman-teman

Setelah kami makan dan pamit, kami ke sanggar dan pulang ke rumah orang tua asuh. Sampai rumah, aku dan Rakka mandi dan makan. Kalian ingat, kan cabe yang aku dan Rakka petik tadi? Malamnya kami makan nasi goreng pedas!  Aku saat makan sedikit-sedikit karena nasinya terlalu pedas. Kalau Rakka langsung habisin karena dia tahan pedas. Buatku nasi gorengnya pedas banget. Selain itu, saat mandi ternyata ada ikan. Kalau kamu gak lihat di dalam ciduk, ada kemungkinan ikan akan jatuh di kepala kamu. 

Setelah itu kami balik ke sanggar dan cerita pengalaman kami.

Kami semua bercerita tentang pengalaman masak makanan khas. Untuk grup yang masak kimpul lucu banget deh, karena Rayda bilang kimpulnya, “pertama rasa kayak fish n’ chips, terus blueberry, setelah itu kulit ayam.” Kami semua ketawa keras. Kami juga bercerita bagaimana perasaan kami saat kita bekerja di dalam  grup masing-masing. Kami diminta untuk bercerita perasaan saat ikut orang tua asuh ke sawah.

Gambar 15 dan 16. Saat aku bercerita tentang pengalamanku di sanggar.

Aku belajar di refleksi malam ini untuk menghargai kerja petani karena mereka sudah susah-susah bekerja. Aku juga belajar kalau mau menghargai dan menghormati orang lain, minimal ingat namanya. Dan kami juga harus jaga barang yang dipinjam karena mungkin barang itu sangat penting untuk mereka walaupun menurut kami barang itu seperti untuk main-main. 

Setelah kami bercerita, kami melakukan logbook. Kaysan juga memberi contoh logbook yang benar. Aku akan membuat logbook yang benar besok.

Saatnya tidur. Kami kembali ke rumah masing masing. Kayaknya cukup untuk blog kali ini. Ketemu kalian di hari ketiga!

Foto oleh: Tim Jaladwara

Hari Pertama Ekspedisi Lereng Merapi

Halo guys. Untuk blog kali ini, aku akan cerita pengalaman aku saat ikut expedisi lereng merapi. Total ada lima hari tapi untuk blog ini aku akan cerita hari ke satu. Jadi siap-siap untuk membaca ya.

Hari Sebelum Ekspedisi 4 Juli 2019
Nah, sebelum hari ekspedisi, ada kabar dari kak Inu kalau ada seorang teman dari Surabaya bernama Syams yang akan menginap di rumahku. Aku menunggu dari jam 4 sore dengan teman aku Rachmat. Kak Inu jemput dari stasiun Lempuyangan. Syam sampai rumah jam 5 sore.

Gambar 1: Aku dan Syams

Setelah itu kami kenalan dan makan malam bersama tetapi Syams tidak mau makan. Syams anaknya suka dengan hp jadi dia nonton terus tidak makan, tidak mandi. Kebetulan, ibuku pergi ke Surabaya jadi hanya ada aku, kakakku dan Syams. Sebenarnya aku dan kakakku sudah tanya apa Syams mau makan. Katanya, dia mau makan ayam. Tetapi saat ayam goreng yang dibeli kakak datang dari Baleroso, dia tidak makan juga. Jadi cuma kakakku dan aku yang makan. Lalu kami istirahat malam itu. Kata kak Inu, kami harus sudah tidur dari jam 9 malam. Tetapi Syams belum tidur karena dia menonton doraemon entah sampai jam berapa.  

Aku sebenarnya suka punya teman baru. Tetapi kalau dia main hp saja, menurutku tidak asik. Harusnya kami bisa cerita banyak tentang kesukaan kami yang setelah ekspedisi, aku baru tahu kami berdua ternyata sama-sama suka mobil.   

Hari Pertama Ekspedisi Lereng Merapi

Hari ekspedisi! Are you ready? Lets go! 

Aku dan Syams bangun jam 5 pagi. Kami bersiap-siap untuk berangkat dari rumah menuju stasiun St. Lempuyangan. Saat aku siap-siap, setelah cuci muka, aku baru sadar kalau aku menemukan uang 100.000ku yang hilang semalam. Untuk sarapan, aku minum protein shake. Kalau Syams tidak mau makan dan tidak mau minum teh atau air. Tapi nanti sambil jalan, kami akan cari sarapan. 

Aku dan Syams berangkat ke stasiun Lempuyangan diantar pak Tukar dan pak Gareng dari jam 06:00. Aku senang banget karena aku bisa pergi jauh dari kakakku dan bisa berkenalan dengan orang lain. Saat kita berangkat, kita berhenti di jalan untuk makan bubur ayam Jakarta pak Jani. Kenapa bubur ayam? Karena itu sesuatu yang bisa dimakan pagi hari. Sikat tuh bubur dan Syams akhirnya makan. Setelah itu, kita lanjut perjalanan ke stasiun Lempuyangan. Dijalan aku dengar musik, karena…. kenapa tidak wkwkwk. 

Kita sampai di stasiun jam 07:10. Saat kami mencari kakak Jaladwara, kami ketemu Sherel dan Fefe yang baru datang dari Kebumen. Kami akhirnya juga ketemu temen lain yang ikut ekspedisi. Total ada 16 orang yang ikut termasuk aku dan Syams. Peserta cewek yang ikut adalah Fefe, Rania, Sherel, Alesha, Rayda, Nayra, Alyka dan Fira. Kalau peserta cowok; Leon, Bagas, Rakka, Fatih, Wildan dan Brian. 

Kakak Jaladwara ketemu kita di dekat gerbong masuk. Kakak jaladwara yang mendampingi kita adalah Kak Meli, Kak Inu, Kak Rinta dan kak Shanty. Setelah kami ketemu kakak Jaladwara, kami diberi buku saku yang berisi cara untuk menuju desa Sumber, belajar unggah ungguh Jawa, pembagian kelompok/rumah, panduan perjalanan dan jadwal harian. 

Gambar 2. Buku saku
Gambar 3 dan 4. Penjelasan dari kakak Jaladwara.

Lalu hp kami semua, kami berikan kepada kakak Jaladwara dan kami hanya bisa pakai hp jadul tanpa android atau pun ios. 

Gambar 5. Mencoba pakai hp jadul

Saat kami berkenalan, kami dijadikan 4 grup. Ada group BukIjo, Nglempong, Watu gedhe, Jagang sari. Aku di group BukIjo, isinya aku, Fatih, Alyka dan Nayra.  Aku senang karena aku punya teman baru.

Setelah itu,  kami diberi waktu untuk cari sarapan pagi. Aku, Bagas, Brian, Wildan dan Fatih cari air untuk isi botol minum kami. Setelah semua siap, mari kita berangkat.

Pertama kami jalan ke pol bis yang ada di depan SMP 5 Yogya. 

Gambar 6. Antri naik bis trans Jogja

Kami semua seharusnya jalan kedepan, tetapi gara-gara ikut Rayda kami  malah muter-muter. Dari situ kami naik trans Jogja jalur 2B dan turun di terminal Jombor. Setelah itu naik bis Cemoro Tunggal jurusan Borobudur dengan harga Rp 7.500 dan berhenti di terminal Muntilan. Aku tidur sepanjang jalan.  

Gambar 7. Naik bis Cemoro Tunggal

Dari terminal Muntilan, kami naik angkot warna merah ke desa Sumber yang biayanya Rp 11.000. Perjalanannya sekitar 35 menit. Ternyata ada mas Kaysan yang ikut juga. Dia ikut sebagai fotografer perjalanan. 

Saat kami tiba di desa Sumber, kami menuju ke sanggar Bangun Budaya untuk berkenalan dengan para pengurus dan anak-anak desa Sumber. Setelah itu, kami ke rumah orang tua asuh masing-masing. 

Gambar 8. Kumpul di sanggar Bangun Budaya

Di desa Sumber, aku dan Rakka tinggal di rumah orang tua asuh. Jadi, aku tinggal di rumah Beni. Nama orang tua Beni adalah Bu Sumpani dan Pak Witono. Kami tidur, makan, mandi disana. Kami juga harus melakukan pekerjaan rumah seperti cuci piring dan baju sendiri karena kami ikut perjalanan ini supaya kami bisa belajar menjadi mandiri. Setelah kami menaruh tas, Rakka makan siang di rumah sedangkan aku tidak makan karena aku lagi tidak enak perutku sehabis perjalanannya. 

Setelah itu, kami main ke sanggar untuk berkenalan dan bermain bareng anak desa Sumber. Tetapi oleh Kak Meli, aku disuruh makan siang karena aktivitasnya akan menghabiskan energi. Jadi aku makan nasi dengan mendoan di belakang sanggar. 

Sesudah itu, aku lanjut main di sanggar bersama anak-anak desa Sumber. Disana ada Lala, Syifa, Beni, Beta, Hambi, Intan dan banyak lagi. Supaya kami hafal dengan nama-nama mereka, kami berkenalan sambil main. Setelah berkenalan, kami main permainan yang bernama “Kenali Sumber.” Di permainan ini, kami harus cari tempat yang ada di gambar yang diberi kakak Jaladwara. 

Gambar 9 dan 10. Bertanya dan mencatat info dari gambar.

Karena kami tidak terlalu tahu desa Sumber, kami minta tolong anak-anak desa Sumber untuk membantu kami. Kalau ketemu tempat yang dicari, kami harus menggali informasi lebih dalam. Kami harus riset tentang tempat itu. Kami bisa tanya apa pun. Yang penting orangnya tahu tempat itu atau tinggal disitu. Contoh gambar yang kita harus cari antara lain antena, portal jalan, kaca gereja, sungai Putri, patung tentara, ongkek dan lain-lain.  

Sudah sore nih waktu main sudah habis. Aku dan Rakka pulang untuk mandi dan makan. Lalu kami harus kembali ke sanggar jam 8 malam untuk refleksi dan membuat logbook. Di sanggar kami diskusi tentang perjalanan dan permainan Kenali Sumber. Kami juga bicara apa yang sudah bagus di grup kami dan apa yang bisa ditingkatkan. Dari kelompokku sendiri, yang sudah bagus adalah komunikasi dan kerjasamanya. Yang masih bisa ditingkatkan adalah kekompakan dan kedisiplinannya. Misalnya, saat kami mewawancarai, Fatih tidak mencatat ataupun bawa buku catatan dan juga ngomel terus. Aku merasa sedikit terganggu tetapi begitu Fatih membantu buat pertanyaan, aku merasa dia membantu juga. 

Gambar 11. Diskusi gambar apa yang akan kita presentasi.

Di logbook, kami menulis hal-hal yang menarik selama perjalanan dan bagaimana perasaan kami saat perjalanan. Perasaanku senang karena aku dapat teman baru dari desa Sumber dan sesama peserta. Aku juga menikmati serunya naik bis dan angkot walaupun itu membuat perutku sakit. Saat aku lakukan logbook, dinginnya desa Sumber minta ampun deh! Apa lagi saat tidur. whui kayak di dalam freezer. Aku tidak tahu berapa derajat karena aku pakai selimut dobel saat aku tidur. Dan aku tidur pulas sekali sampai pagi. 

Sampai jumpa di hari kedua. 

Foto oleh: Tim Jaladwara

Jalan-Jalan Bareng Rachmat

Untuk blog kali ini, aku akan menceritakan jalan-jalan bareng temanku yang bernama Rachmat.

Jaman dulu, setiap hari, aku jalan kaki sendirian sambil mendengarkan musik menggunakan HP/Ipod. Aku seneng banget jalan-jalan karena bisa ketemu temen-temen, ketemu tukang dan banyak lagi. Tetapi untuk cerita kali ini aku akan menceritakan tentang jalan-jalan bareng-bareng Rachmat

Aku dan Rachmat berangkat dari rumah pukul 08:13. Saat kami jalan, kita mengobrol tentang film Fast And Furious, cerita pertama kali kami ketemu di Thailand dan tips untuk expedisi lereng merapi. Kami berpikir kalau kita ngobrol, kami akan rasa waktunya akan lebih cepat.

Saat kami jalan kaki, kami melihat sampah dimana-mana, seperti di jalan, sungai, dan deket perumahan. Aku dan Rachmat foto supaya kalian bisa melihat seberapa parahnya sampah yang kita temui.

Bekas petasan dari lebaran
Sampah yang Rachmat ketemu di samping sawah
Sampah yang aku ketemu di sungai saat melewati jembatan

Sayang sekali ya……….. Tapi jangan sedih dulu ada lucu-lucunya cerita ini. Setelah kami melewati sampah-sampahnya, kami juga melewati makam, saat itu aku merasa ingin lari, tiba-tiba Rachmat ikutan lari terus aku kaget dan lari lebih kenceng karena aku kirain ada yang kejar aku. Tiba-tiba Rachmat takut, kirain aku akan tinggalin dia di makam sendirian. Dan beberapa lama kita tersesat, jadi pakai google map untuk cari rumah aku hehehe.

Terimakasih untuk membaca tulisan kali ini dan sampai jumpa di blog berikutnya!

Pengalaman Belanja Minim Sampah

Halo guys. Untuk blog kali ini, aku akan kasih kalian tahu cara untuk belanja dengan minin sampah.

Kalau kalian ke pasar atau supermarket, kalian pasti dikasih plastik. Untuk kalian pasti tidak masalah tetapi di dunia kita kena polusi seperti pemanasan global atau bencana alam banjir. Tetapi kita akan fokus ke plastik. Kalau misalnya kalian melempar sebuah tas plastik kemanapun, plastik itu akhirnya akan di laut bareng plastik botol dan plastik yang lainnya.

Tas plastik kresek itu sulit didaur ulang. Sama orang lain, plastiknya di buang ke sungai. Setelah mengampung disungai, plastik itu akan ke laut. Kalau plastiknya tidak diangkat dan mengapung untuk beberapa tahun, plastik itu akan menjadi mikroplastik yang dimakan oleh binatang. Kalau kita makan ikan yang sudah makan plastik, kita sebenarnya makan plastik. Dan juga garam. kita masukan garam yang sudah kena mikroplastik didalam masakan kita.

Dan bagi yang tidak tahu, plastik itu juga bisa kesangkut binatang-binatang lain. Kalau kena di leher atau ataupun badan, binatang-binatang itu akan mati karena plastik seperti kura-kura ini.

Related image

Apa kalian tidak kasihan melihat kura-kura ini tersangkut plastik di badannya? Jadi plastik tidak hanya berdampak kepada kita saja tetapi juga binatang-binatang lain.

Balik ke belanja minim sampah, aku belanja bahan-bahan untuk membuat perkedel. Aku belanja pakai tas belanja sendiri. Aku juga bawa wadah untuk titipan belanja ibu, yaitu kecambah.

Aku ke pasar jalan kaki sendirian. Aku perginya ke pasar kecil yang isinya 3 penjual sayur, daging, bumbu dan snack. Kalau kalian mau tahu pasar kecilnya dimana, silahkan cek link ini https://www.google.com/maps/@-7.7201077,110.4130128,3a,75y,97.71h,71.82t/data=!3m9!1e1!3m7!1sZXc-_y6F1InDGfvjIkU4OA!2e0!7i13312!8i6656!9m2!1b1!2i41

Saat aku belanja aku ketemu kesusahan. Saat aku di pasarnya, aku lupa membawa wadah untuk kecambah ibu. Jadi aku pulang lagi. Saat aku membeli bahan-bahan untuk perkedel, aku bilang kepada penjualnya bahwa aku tidak mau pakai plastik, penjualnya setuju dan bilang oh iya tidak apa-apa. Jadi kalau kita minta tidak pakai plastik dari awal, penjualnya akan mendukung.

Menurut aku ya, aku suka pengalaman ini karena, pengalaman ini membuat aku sadar bahwa aku bisa membuat perubahan besar dari melakukan hal kecil-kecil seperti bawa tas sendiri dan juga mengurangi plastik.

Kalau kalian mau mencoba pengalaman ini dan mau membuat dunia yang lebih sehat, ikuti perintah-perintah aku saat belanja:

  1. Bawalah tas belanja sendiri.
  2. Tolaklah penjual kalau mau kasih anda plastik.
  3. LOVE THE EARTH

Saatnya memasak!

Hai guys! Untuk blog kali ini, aku akan kasih kalian resep spesial dan cerita untuk buat makanan ini yaitu perkedel!

Sebelum buat perkedel, pasti kalian tau bahwa harus ada bahan-bahan dan resepnya. Untuk bahan-bahanya, kalian perlu…

  1. 7 buah kentang
  2. 2 butir telur
  3. Seledri
  4. Minyak kelapa
  5. Tepung

Bumbu sudah di haluskan:

  1. Kaldu jamur yang bukan micin
  2. Bawang merah dan bawang putih masing-masing 2 siung
  3. Merica (secukupnya)
  4. Garam dan gula

Cara memasak:

  1. Cuci kentang dan rebus hingga matang. Kupas kulitnya dan tumbuk hingga halus.
  2. Tumis bumbu-bumbu halus dan masukan kedalam wadah yang berisi kentang.
  3. Tambahkan telur, tepung, seledri dan aduk rata.
  4. Buat adonan menjadi bulatan pipih.
  5. Masukan adonannya ke kocokan telur.
  6. Lalu goreng.
  7. Sajikan, doa dan makan sepuasnya.

Sebelum aku membuat perkedel, paginya aku pergi ke pasar untuk beli bahan-bahanya di pasar. Aku ke pasar kecil tetapi ada yang gede tetapi agak jauh. Aku ke pasar yang kecil karena lebih deket dan ada bahan-bahan yang aku perlu.

This image has an empty alt attribute; its file name is image.png
Mau jalan ke pasar dulu guys.
Ada kecambah untuk buat soto.

Setelah aku beli bahan-bahanya, akupun memulai memasak bareng ibuku. Di dapur aku mengupas dan memotong kentang lalu merebusnya. Lalu aku membuat bumbu halus dengan cara mengulek di atas layah batu. Saat aku mengulek bumbunya, mataku kepedihan dan mulai mengeluarkan air mata. Jadi aku pakai helm motor untuk menghindari enzim bawang yang mengeluarkan gas yang bernama propanethial sulphoxide. Kalau gas itu kena mata itu akan menghasilkan asam sulphuric yang membuat otak kita memerintahkan kelenjar air mata untuk mengeluarkan cairan biar mata tidak asam.

Mengulek bawang dengan memakai helm supaya tidak menangis bombay. 😂

Saat aku selesai mengulek bawang-bawangnya, kemiri, merica, kaldu dan garam, aku memasukan potongan seledri dan lajut mengulek. Setelah itu, aku masukan kentang dan bumbu halus kedalam sebuah kontainer dan hancurkan kentang bareng bumbu hingga halus dan masukan telur dan aku bulat-bulatin seperti ini….

Tibalah saatnya menggoreng. Saat aku mengoreng, hasilnya parah dan aku lupa memasukin tepung jadi aku keluarin semua kentang yang di panci dan buat yang baru. hasilnya seperti ini guys….

Hasil perkedelnya.

Saat aku coba perkedelnya, rasanya enak tetapi kulitnya aku tidak suka karena dilapis telur . Untuk ibuku dan kakakku, mereka merasakan perkedelnya baik-baik saja. Apakah cuma aku gak suka atau aku makan sesuatu sebelumnya malah buat aku makan perkedelnya tidak enak ya?

Aku menikmati tantangan ini karena aku bisa belajar sedikit-sedikit untuk masa depanku kayak mengatur duit, mengurangi jajan dan mencoba menghemat. Dan tantangan ini juga membuat aku lebih deket dengan keluarga dengan masak bareng-bareng.

Ayuk buat perkedel. Buat temen makan sotomu. Seperti aku yang suka makan soto dengan perkedel!

Lacak Kisah Masa Kecil

Untuk tulisanku kali ini, aku ingin bercerita tentang permainan favorit masa kecil pakdhe-pakdheku. Dan aku akan bandingkan dengan permainan yang aku mainkan saat ini.

Saat hari raya Idul Fitri hari kedua, aku berkumpul dengan keluarga besarku di Solo. Di hari itu, saling mengucapkan maaf lahir batin dan melakukan sungkeman kepada semua orang-orang tua. Bagian yang seru dan paling ditunggu adalah pas menerima uang THR yang aku singkat sendiri dari Tambahan uang jajan dari Hari Raya. Saat aku hitung bareng sepupuku, Aryo dan Bram, kami mendapat total 1.200.000. Buatku banyak sekali uangnya. Setelah itu, aku dan saudara aku makan sampai puas!

Ditengah-tengah acara makan keluarga, aku mewawancarai pakdhe Kuncoro dan pakdhe Budi. Ceritanya ibu pakdhe-pakdheku itu kakak beradik dengan eyang kakungku. Pakdhe-pakdhe itu teman bermain ayahku saat kecil. Jadi aku adalah keponakan pakdheku. Aku memilih pakdhe budi karena aku jarang mengobrol bareng dia, jadi sekalian berkenalan supaya deket. Kalau pakdhe Kuncoro, aku memilih dia karena orangnya asik dan suka bercerita tentang masa kecilnya dengan ayahku. Ceritanya seru dan lucu loh.

Aku meminta mereka cerita tentang permainan kesukaan masa kecil mereka.

Pertama aku akan cerita tentang masa kecil pakdhe Agus Prapto Kuncoro yang biasanya kupanggil Pakdhe Kun. Umurnya 51 tahun sekarang. Pakdhe Kun lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Karanganyar, Jawa Tengah. Permainan kesukaan masa kecil adalah jeguran. Dia bermain dengan teman-teman satu kampungnya. Permainan ini cara bermainnya dimulai dengan hompimpa hingga ada yang kalah. Orang yang kalah itu jadi. Yang jadi itu harus mengejar teman yang lainya sampai satu orang kena. Kalau kena, orang itu harus masuk kedalam kolam atau kali dan berendam selama beberapa menit. Terus orang yang berendam itu jadi dan harus gantian mengejar yang lain.

Aku baru sadar permainan ini seperti permainan tag yang kumainkan dengan teman-temanku di sekolah. Tetapi kalau di sekolah, kita tidak berendam dalam kolam ataupun kali karena kita tidak boleh berendam karena nanti kita akan basah dan tidak membawa baju ganti dan sekolah tidak ada kolam untuk merendam diri.

Permainan ini kata pakdhe sudah tidak dimainkan lagi karena air kolam sudah ada banyak sampah. Dan anak-anak sekarang lebih senang bermain gadget daripada berkeringat, berpanas-panas, berbasah-basah, main permainan diluar rumah.

Menurut aku permainan ini sangat asyik kalau dimainkan ramai-ramai. Tetapi sayangnya kolam-kolam sudah kena polusi jadi tidak aman untuk dimainkan deh.

Cerita kedua diceritakan oleh pakdhe Budi Prabawa yang aku panggil pakdhe Budi. Pakdhe berumur 54 tahun dan saat ini, tinggalnya di Karanganyar, Jawa Tengah. Tetapi masa kecilnya tinggal di Solo, Kalirahman. Permainan favoritnya adalah bermain kelereng. Cara bermainya adalah, mengumpulkan kelereng dari semua pemain dan ditaruh dalam lingkaran yang digambar di tanah. Selanjutnya, pemain harus menyentil kelerengnya yang diarahkan kedalam lingkarannya. Kalau kelereng yang disentil masuk dan mendorong kelereng lainya keluar dari lingkaran, maka kelereng yang keluar akan jadi miliknya. Tetapi, kalau tidak kena, pemain itu tidak boleh mengambil ataupun mencuri kelereng yang didalam lingkaran.

Permainan ini masih dimainkan oleh anak kampung atau anak desa. Tetapi kalau anak kota udah jarang karena mereka tidak punya tanah untuk bermain permainan kelereng. Mereka tinggal di komplek perumahan, jadi disana tidak ada tanah, cuma semen disekitarnya.

Aku sendiri sudah mencoba permainan kelereng ini bareng teman-teman aku. Dan sangat menyenangkan kalau rame-rame. Tetapi aku belum biasa untuk menyentil kelereng kedalam lingkaran. Jadi kadang yang aku sentil tidak cukup kuat untuk mengeluarkan kelereng lain yang ada didalam lingkaran.

Masih ada banyak permainan tradisional. Aku pernah main gobak sodor, bentik, petak umpet, lompat tali, boi boian, egrang, congklak, layangan, gasing, ular naga panjang. Lainya aku lupa hehehe. Menurut aku permainan ini harusnya sering dimainkan karena kita bisa berolahraga sekalian dan lebih sehat buat tubuh terutama mata dan bisa dapat lebih banyak teman. Daripada cuma bermain di depan komputer, hp, PS mending main diluar rumah yuk!

Terima kasih sudah membaca tulisan aku ya. Permainan kesukaanmu apa? Ayuk main diluar rumah bareng aku!

Ulasan: Film MaidenTrip



“I really like boats. If you want to go somewhere, you just take your house with you.” -Laura Dekker-

“MaidenTrip”, adalah sebuah film yang menceritakan tentang anak bernama Laura Dekker yang berumur 14 tahun. Di film ini, Laura Dekker mempunyai mimpi untuk berlayar mengelilingi dunia dengan kapal bernama Guppy. Laura Dekker memulai petualangannya dari Belanda pada tanggal 21 Agustus, 2010. Di perjalanannya, Laura berlayar ke Samudra Antartika, Samudera Pasifik, Samudera Atlantik . Sebelum Laura berlayar, Laura harus: mencari sponsor, berbicara dengan pengadilan, orangtua, perlindungan anak karena mereka mungkin akan mengambil ayahnya dan mengirim Laura ke rumah untuk anak gila, belajar sistem navigasi, mencari rute agar tahu jalur pelayaran yang harus dilewati. Dan tentu saja belajar mengemudikan kapal. Dan di perjalanan, Laura juga harus melewati tantangan seperti angin, karena kalau tidak ada angin, Laura tidak bisa berlayar dan itu membuat Laura putus asa. Dan kalau kapalnya rusak, Laura tentu saja harus memperbaiki kapalnya. Tetapi setelah semua itu, Laura tetap percaya dia akan berhasil dan mewujudkan mimpinya sebagai seorang pelayar. Di dalam perjalanannya, Laura bertemu beberapa orang saat dia berhenti untuk belajar atau berlabuh untuk berbelanja. Perjalananya untuk memutar seluruh dunia dan belajar budaya budaya sekitar 519 hari. Dan setelah Laura balik dari perjalanannya, dia menjadi terkenal dan walaupun dia sudah kelilingi seluruh dunia, dia tetap melanjutkan untuk menjadi pelayar.

Menurut aku, film ini sangat bagus dan menginspirasi karena film ini menceritakan bahwa kita bisa lakukan apa saja kalau kita ada dorongan untuk melakukanya. Dan film ini aku akan ngerate 9/10 karena, di bagian 20:45 aku ketiduran jadi film ini bisa di’improve’ dari ngomongnya dan ‘cinematic’nya dan kurang aksi gitu. Dan menurut aku, Laura juga bisa jelasin apa yang sudah Laura pelajari selama lihat dan mengalami budaya yang dia lihat. Menurut aku bagian bagian yang menarik adalah proses untuk perjalanan ini. Karena dengan proses itu, kita bisa meniru sebagai pelajaran untuk apa yang kita harus lakukan kalau kita mau traveling di . Dan setelah saya nonton film ini, saya google dan di film katanya  518 hari untuk Laura memutar satu dunia tetapi di google bilangnya 519 hari. Tetapi cuma beda satu hari saja bukan satu tahun. Dan bagi orang yang putus asa atau perlu inspirasi, film ini cocok sekali bagi yang perlu inspirasi.



Bagi kalian yang penasaran dan pengen tahu lebih tentang Laura, di bawah ini ada link tentang Laura berbicara di CloudFest. Sangat menginspirasi!!!