Etimologi dan Pengantar
Secara etimologi dalam bahasa Sanskerta, Nara berarti Manusia, dan Narayana mengacu pada nama dewa. Nara dipercaya sebagai roh yang meliputi alam semesta dan akan dikaitkan dengan Narayana. Sementara untuk Narayana, menurut kepercayaan, nama Narayana diambil nama lain dari air yang adalah ‘Naara’, tempat istirahat dewa Wisnu yang bernama ‘Ayana’. Kedua kata tersebut (Naara dan Ayana) digabung dan dijadikan nama yang menjadi saudara kembar dewa Nara yaitu Narayana.
Hubungan dekat Narayana dengan air menjelaskan pengembaraan Narayana dalam seni Hindu sedang berdiri atau duduk di samudra. Pengejawantahan penting dari Narayana adalah “Maha Menjadi yang merupakan dasar dari semua orang”. Mereka adalah putra Dharma oleh Murti atau Ahimsa dan emanasi Wisnu, Arjuna diidentifikasikan dengan Nara, dan Krishna dengan Narayana.
Nara dan Narayana merupakan saudara kembar penjelmaan Dewa Wisnu di bumi dan mereka adalah sepasang dewa Hindu, yang bertugas sebagai penegak dharma atau kebenaran. Dalam konsep Nara dan Narayana, Nara dipercaya sebagai jiwa manusia, Narayana dipercaya sebagai Yang Maha Suci. Nara dipercaya sebagai pasangan yang kekal bagi Narayana. Dalam Wiracarita Hindu Mahabharata menyatakan, Krishna sebagai Narayana sedangkan Arjuna sebagai Nara pahlawan dalam wiracarita.
Arjuna dan Krishna sering disebut sebagai Nara-Narayana dalam Mahabharata, dan dianggap sebagai bagian dari inkarnasi Nara dan Narayana, menurut Devi Bhagavata Purana.
Dalam kehidupan sebelumnya, keduanya terlahir sebagai resi Nara dan Narayana yang melakukan penebusan dosa di tempat suci Badrinath. Nara dan Narayana adalah Avatar keempat Wisnu. Si kembar adalah putra Dharma, putra Brahma dan istrinya Murti (Putri Daksha) atau Ahimsa. Mereka tinggal di Badrika melakukan pertapaan keras dan meditasi untuk kesejahteraan dunia.
Kedua orang bijak yang tak terpisahkan ini mengambil avatar di bumi untuk kesejahteraan umat manusia. Legenda mengatakan bahwa sekali, Shiva mencoba membawa ketenaran Nara dan Narayana ke seluruh dunia. Untuk melakukan itu, dia melemparkan senjata ampuhnya sendiri, Pashupatastra, ke para resi yang bermeditasi. Kekuatan meditasi mereka begitu kuat sehingga Shiva kehilangan kekuatannya di depan mereka. Shiva menyatakan bahwa ini terjadi karena keduanya adalah Jnani tingkat pertama terus-menerus dalam keadaan Nirvikalpa Samadhi. Jnani sendiri adalah singkatan atau gelar yang diberikan kepada orang yang memiliki pengetahuan suci.
Bhagavata Purana menceritakan kisah kelahiran Urvashi dari orang bijak Nara-Narayana. Suatu ketika, resi Nara-Narayana sedang bermeditasi di kuil suci Badrinath yang terletak di Himalaya. Pertapaan-pertapaan mereka membuat para dewa khawatir, jadi Indra, Raja Dewa, mengirim Kamadeva, Vasanta (musim semi) dan bidadari-bidadari untuk menginspirasi mereka dengan semangat dan mengganggu pengabdian mereka. Resi Narayana mengambil sekuntum bunga dan meletakkannya di pahanya. Segera dari sana muncul seorang bidadari cantik yang pesonanya jauh melebihi bidadari surgawi, dan membuat mereka kembali ke surga dengan penuh rasa malu dan kesal. Narayana mengirim nimfa ini ke Indra bersama mereka, dan darinya dihasilkan dari paha (uru dalam bahasa Sansekerta) orang bijak, dia disebut Urvashi. Setelah mengirim kembali para bidadari, para resi suci terus bermeditasi.
Nara dan Narayana juga dipercaya dalam pengutusan mereka menegakkan kebenaran atau Dharma di bumi dengan tujuan untuk mengalahkan raja Kamsa. Raja Kamsa sendiri adalah raja ‘iblis’. Raja Kamsa merebut tahta Mahtura dari ayahnya yang bernama Ugrasena dan memenjarakannya bersama dengan sepupunya Dewaki. Sehingga Nara dan Narayana di utus untuk menegakkan Dharma.



